Selamat Pagi, Siang, Malam, atau kapan saja kamu membaca postinganku ini.
Selamat datang di rumahku yang lainnya. Rumah yang pintunya tidak dapat diketuk, untuk memudahkan kalian bertamu kapan saja. Silahkan masuk. Silahkan duduk, di bawah langit rasa yang warnanya terus berubah -ubah.
Kalian mau minum apa?
Aku tidak punya banyak pilihan. Air bening, atau berwarna gelap. Air bening yang kukumpulkan tetes demi tetes, yang menguap dari jutaan harapan. Segar bagai embun. Lebih dari cukup untuk membasuh hatimu yang kerontang.
Atau mau yang sedikit berbeda? Air berwarna gelap. Yang tetes demi tetesnya dihasilkan dari kecewa dan rasa sakit. Rasa perih yang nyaris tak terobati. Butuh bertahun-tahun untuk membuatnya sekedar kering. Sekedar kering. Dan masih sering terasa sakit bila tak sengaja tersentuh. Jadi jangan sentuh.
Warnanya begitu pekat, dan rasanya teramat pahit. Sangat pahit. Lebih pahit dari jamu, tapi tak cukup pahit untuk membunuhmu. Bukan juga racun.
Untukmu yang sudah lupa bagaimana rasanya menderita, lupa bagaimana untuk menangis, minumlah. Akan menyembuhkan sakitmu yang semakin parah, yang tak terdeteksi di bawah gemerlap lampu yang tak pernah padam. Sakitmu yang tak pernah terdengar ditelan bising hingar bingar. Aku tahu kamu lelah, minumlah.
Tapi aku tak punya makanan. Hanya dua jenis minuman. Silahkan datang lagi lain kali, dan bawakan aku sepotong roti. Jangan roti busuk. Roti keju, yang masih empuk. Lambaikan tanganmu, jangan menangis. Sampai jumpa di lain hari, masih di rumah ini.
With Love,
Richy
Selamat datang di rumahku yang lainnya. Rumah yang pintunya tidak dapat diketuk, untuk memudahkan kalian bertamu kapan saja. Silahkan masuk. Silahkan duduk, di bawah langit rasa yang warnanya terus berubah -ubah.
Kalian mau minum apa?
Aku tidak punya banyak pilihan. Air bening, atau berwarna gelap. Air bening yang kukumpulkan tetes demi tetes, yang menguap dari jutaan harapan. Segar bagai embun. Lebih dari cukup untuk membasuh hatimu yang kerontang.
Atau mau yang sedikit berbeda? Air berwarna gelap. Yang tetes demi tetesnya dihasilkan dari kecewa dan rasa sakit. Rasa perih yang nyaris tak terobati. Butuh bertahun-tahun untuk membuatnya sekedar kering. Sekedar kering. Dan masih sering terasa sakit bila tak sengaja tersentuh. Jadi jangan sentuh.
Warnanya begitu pekat, dan rasanya teramat pahit. Sangat pahit. Lebih pahit dari jamu, tapi tak cukup pahit untuk membunuhmu. Bukan juga racun.
Untukmu yang sudah lupa bagaimana rasanya menderita, lupa bagaimana untuk menangis, minumlah. Akan menyembuhkan sakitmu yang semakin parah, yang tak terdeteksi di bawah gemerlap lampu yang tak pernah padam. Sakitmu yang tak pernah terdengar ditelan bising hingar bingar. Aku tahu kamu lelah, minumlah.
Tapi aku tak punya makanan. Hanya dua jenis minuman. Silahkan datang lagi lain kali, dan bawakan aku sepotong roti. Jangan roti busuk. Roti keju, yang masih empuk. Lambaikan tanganmu, jangan menangis. Sampai jumpa di lain hari, masih di rumah ini.
With Love,
Richy


No comments:
Post a Comment